Persepsinews, Samarinda – Dalam rangka menyambut HUT RI ke 79, organisasi perempuan di Samarinda fokus memberikan edukasi dan pelatihan tentang bagaimana menjaga lingkungan sebagai upaya mencegah kerusakan lingkungan serta peningkatan peran perempuan dalam menjaga krisis iklim.
Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan isu perubahan iklim dan dampaknya yang kian dirasakan, terutama oleh perempuan dan keluarga mereka. Para pembicara memaparkan berbagai topik, termasuk perubahan pola cuaca, peningkatan frekuensi bencana alam, serta dampak ekonomi dan kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat lokal.
Organisasi perempuan yang terhimpun dalam puanlestari.id menilai krisis iklim memiliki dampak besar terhadap perempuan. Founder Puan Lestari Hanna Pertiwi menjelaskan, dalam menghadapi kondisi ini setiap orang terutama perempuan dapat menjaga kelestarian lingkungan.
Selain memberikan edukasi, Puan Lestari ini juga memberikan aplikasi atau turun langsung memberikan pemahaman dan pengalaman tentang bagaimana menjaga lingkungan tersebut melalui kerjasama dengan pemerintah daerah.
“Kami berupaya melakukan koordinasi kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kehutanan,” ungkap Hanna.
Mengutip data PBB disebutkan bahwa 80 persen perempuan menjadi kelompok terdampak adanya perubahan iklim. Hal ini lantaran perempuan berperan sebagai perawat dan penyedia makanan.
Hal inilah yang mendasari terbentuknya Puan Lestari sebagai platform digital, yang bertujuan untuk mengedukasi berbagai hal tentang krisis iklim, khususnya bagi perempuan. Menurut Hanna, dalam banyak konteks, perempuan lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim daripada laki-laki.
Dalam komposisi penduduk miskin dunia lebih banyak perempuan dan mata pencaharian perempuan lebih bergantung pada sumber daya alam yang terancam oleh perubahan iklim. Sehingga tidak bisa dipungkiri, apabila dampak negatif akibat perubahan iklim kini bisa dirasakan, dalam jangka pendek. Salah satunya fenomena-fenomena bencana alam, seperti tanah longsor, banjir dan angin topan.
“Memandang perempuan tidak hanya rentan terhadap perubahan iklim, namun perempuan merupakan aktor atau agen perubahan utama dalam menghadapi permasalahan ini. Sehingga perlu adanya kegiatan edukasi yang masif yang menjadi tujuan utama platform ini didirikan,” jelasnya. (Ozn)













