
Persepsinews.com, Samarinda — Upaya hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan di Kalimantan Timur kini memasuki babak baru. Pemerintah Provinsi Kaltim bersama Koperasi dan Universitas Mulawarman membangun industri pakan ternak terpadu di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun, yang digadang menjadi salah satu pusat produksi pakan terbesar berbasis bahan baku lokal.
Pabrik pakan ini dibangun di atas lahan seluas sekitar 1 hektare yang diibahkan oleh Koperasi Desa Loleng kepada Pemerintah Provinsi Kaltim. Langkah ini menjadi bukti komitmen kuat masyarakat desa dalam mendukung pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis hilirisasi.
Menurut penjelasan Dinas DPPKUKM Kaltim, pembangunan fasilitas pabrik telah melalui proses lelang dan dijadwalkan selesai pada tahun ini. Pabrik tersebut dirancang sebagai Rumah Produksi Bersama (RPP) sesuai juklak dan juknis Kementerian Koperasi dan UKM, dan pengelolaannya akan dilakukan oleh koperasi yang bekerja sama dengan Universitas Mulawarman serta koperasi-koperasi di seluruh kabupaten/kota Kaltim.
Desa Loleng dan kawasan sekitarnya dikenal memiliki potensi besar untuk menopang industri pakan. Para petani jagung, petani sawit, serta sentra perikanan di Kecamatan Kota Bangun menyediakan bahan baku yang stabil.
Sejumlah komoditas yang akan dimanfaatkan antara lain:
– Jagung lokal produksi petani
– Bungkil inti sawit
– Cangkang kepala sawit
– Limbah padat (solid) sawit
– Limbah ikan dari wilayah sekitar Kecamatan Kota Bangun.
Pemanfaatan limbah sawit dan limbah ikan ini sejalan dengan program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah pusat meningkatkan nilai tambah, menekan biaya produksi pakan, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pabrik pakan ini menjadi harapan baru bagi petani. Selama ini, banyak petani menjual jagung kepada tengkulak dengan harga rendah. Dengan adanya pabrik modern yang dikelola koperasi, petani kini memiliki rantai pasok yang lebih menguntungkan.
“Mereka tidak akan dimainkan lagi harga hasil pertaniannya. Jagung mereka bisa langsung menjadi bahan baku pakan dengan harga lebih tinggi dibandingkan menjual ke tengkulak,” jelas jajaran DPPKUKM Kaltim.
Selain itu, koperasi juga akan mengelola mesin-mesin modern berstandar industri agar produksi lebih efisien dan kualitas pakan tetap terjaga. Para petani jagung akan menjadi bagian langsung dari pengelolaan koperasi dan industri, bukan sekadar pemasok bahan mentah.
DPPKUKM Kaltim memastikan bahwa keberlanjutan industri ini tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik pabrik. Pemprov akan menurunkan pendamping untuk membantu koperasi dalam pengelolaan bisnis, termasuk memastikan ketersediaan pasar.
Pendamping ini akan menjembatani kerja sama dengan para pembeli pakan ternak, khususnya untuk ayam petelur probiotik yang saat ini sangat dianjurkan sebagai model budidaya unggas yang lebih sehat dan produktif.
Hadirnya pabrik pakan di Desa Loleng bukan hanya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, tetapi juga memperkuat posisi petani dalam rantai industri. Hilirisasi ini diharapkan menekan biaya logistik, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Sinergi antara petani, koperasi, Unmul, dan Pemerintah Provinsi Kaltim menjadi model kolaborasi antara hulu dan hilir yang dapat direplikasi di daerah lain.(Han911/adv/Diskominfokaltim)













