spot_img

BRIDA Kaltim Gandeng Hampir Semua Kampus, Dorong Riset dan Akreditasi

Persepsinews.com, Samarinda – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah ambisius dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi (risnov) di Bumi Etam.

BRIDA Kaltim telah berhasil menjalin kerja sama strategis dengan hampir seluruh perguruan tinggi yang tersebar di Kaltim. Kolaborasi masif ini diyakini mampu menambal kekurangan kapasitas peneliti internal BRIDA sekaligus memberikan manfaat timbal balik yang signifikan bagi dunia akademik daerah.

​Kepala BRIDA Provinsi Kalimantan Timur, Fitriansyah, mengungkapkan luasnya jangkauan kerja sama tersebut. Kolaborasi ini melibatkan kampus-kampus dari berbagai penjuru Kaltim, memastikan pemerataan riset hingga ke wilayah terluar.

“Ketika ditanya jumlahnya, hampir semuanya sudah bekerja sama dengan BRIDA. Mulai dari perguruan tinggi di Berau, Paser, hingga Kutai Barat seperti Kampus Sendawar, semuanya terlibat,” ujar Fitriansyah.

Dia menegaskan komitmen BRIDA untuk tidak membatasi kerja sama hanya pada kampus-kampus besar di ibu kota provinsi.

​Fitriansyah menjelaskan bahwa kerja sama ini memiliki manfaat ganda. Tujuannya bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kajian dan inovasi pemerintah daerah, tetapi juga secara langsung memberikan keuntungan bagi perguruan tinggi mitra.

​Menurutnya, kolaborasi penelitian bersama ini merupakan katalis penting yang turut mendorong peningkatan akreditasi kampus.

Kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang terstruktur dan terintegrasi dengan kebutuhan pemerintah daerah merupakan salah satu indikator penilaian yang sangat penting dalam proses akreditasi nasional perguruan tinggi.

​“Tujuan kolaborasi ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan riset dan inovasi kami. Lebih dari itu, kami juga berupaya untuk membantu meningkatkan akreditasi perguruan tinggi tersebut. Jadi manfaatnya ganda; kami dapat dukungan riset, kampus dapat poin akreditasi,” jelasnya.

​Fitriansyah secara terbuka mengakui tantangan internal yang dihadapi BRIDA Kaltim. Badan tersebut saat ini masih kekurangan tenaga peneliti yang memadai.

Dengan hanya memiliki 15 peneliti aktif, jumlah tersebut jauh dari cukup untuk menampung seluruh kebutuhan kajian strategis dan inovasi di tingkat provinsi yang begitu kompleks.

​Oleh karena itu, kolaborasi dengan ribuan dosen dan pakar yang tersebar di berbagai perguruan tinggi Kaltim menjadi strategi yang sangat vital untuk memperkuat kapasitas riset daerah secara cepat dan efektif.

“Peneliti kami hanya 15 orang, sementara ada ribuan dosen yang bisa membantu sesuai kepakarannya. Ini adalah solusi cerdas untuk memaksimalkan potensi SDM akademik lokal,” katanya.

Fitriansyah menambahkan bahwa BRIDA Kaltim memiliki mekanisme untuk mengatasi kebutuhan keahlian khusus yang mungkin belum tersedia di Kaltim.

“Apabila diperlukan, BRIDA dapat menggandeng mitra dari luar daerah,” katanya.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maupun universitas besar nasional seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) kerap menjadi rujukan utama untuk mencari kepakaran tertentu.

​Ini mencakup bidang-bidang yang sangat sensitif dan spesifik, seperti teknologi nuklir, yang memerlukan keahlian dan fasilitas khusus.

“Jika ada kepakaran yang belum tersedia di Kaltim, kami bisa meminta bantuan BRIN atau perguruan tinggi lain di luar Kaltim. Misalnya untuk kepakaran nuklir yang membutuhkan tools dan SDM spesifik,” pungkasnya.

Kerja sama ini menunjukkan kesiapan BRIDA Kaltim untuk memanfaatkan seluruh jaringan riset nasional demi memajukan inovasi daerah. (CIN/Adv/Diskominfokaltim)

Related Articles

Media Sosial

15,000FansLike
10,000FollowersFollow
5,000FollowersFollow
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru

Berita Populer