
Persepsinews.com, Samarinda — Upaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menanamkan kecintaan terhadap daerah melalui pendidikan kian nyata. Setelah melalui proses panjang sejak 2022, kini buku Muatan Lokal (Mulok) Fase F untuk siswa SMA kelas XII resmi menuntaskan tahap uji keterbacaan dengan hasil yang dinilai sangat memuaskan.
“Semua buku dinyatakan siap cetak setelah menerima masukan dari publik dan penelaah,” ujar Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian SMA Disdikbud Kaltim, Atik Sulistiowati, saat ditemui.
Hasil uji keterbacaan menunjukkan Sumber Daya Alam 93 persen, Seni Budaya 97 persen, dan Bahasa Daerah 95 persen. Capaian ini menandai kesiapan buku Mulok untuk segera digunakan mulai tahun pelajaran 2026/2027.
Atik menjelaskan, penyusunan buku ini merupakan proses bertahap selama empat tahun. Tahun 2022 difokuskan untuk penyusunan kurikulum dasar, 2023 untuk buku kelas X (Fase E), 2024 untuk kelas XI, dan 2025 untuk kelas XII (Fase F).
“Kami targetkan naskah final rampung bulan ini agar awal tahun pelajaran 2026 sudah bisa digunakan,” katanya optimistis.
Ia menegaskan, kehadiran buku muatan lokal bukan sekadar pelengkap pelajaran, melainkan wadah untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya dan kearifan lokal.
“Kami ingin siswa Kaltim tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga mengenal jati dirinya sebagai bagian dari daerah yang kaya budaya,” tegas Atik.
Sementara itu, Dr. Yuni Utami, salah satu penelaah buku, menyebut penyusunan buku Mulok merupakan tindak lanjut kebijakan nasional yang memberi ruang bagi daerah untuk mengembangkan kurikulum sesuai kekhasan lokal.
“Kaltim memilih tiga ranah utama Bahasa Daerah, Sumber Daya Alam, dan Seni Budaya karena paling mencerminkan identitas daerah,” jelasnya.
Menurut Yuni, proses penyusunan dilakukan secara intensif melalui empat kali pertemuan tatap muka tiap tahun. Tim penyusun melibatkan akademisi, komunitas lokal, hingga penutur asli bahasa daerah agar isi buku benar-benar merepresentasikan nilai dan konteks sosial budaya Kaltim.
“Untuk Bahasa Daerah, prosesnya cukup menantang karena harus melalui tahap penerjemahan dan revisi oleh penutur asli. Versi Bahasa Indonesia disusun lebih dulu, baru diterjemahkan dan disesuaikan kembali,” terangnya.
Setiap versi buku Bahasa Daerah mengangkat tema serupa seperti kekayaan alam, pariwisata, dan kehidupan masyarakat Kaltim. Namun bagian cerita rakyat dibuat khas sesuai daerah.
“Cerita rakyat Dayak tentu berbeda dengan Berau atau Paser. Kami tidak mencampur, tapi menampilkan kekhasan masing-masing daerah,” kata Yuni.
Ia menambahkan, meski tidak semua usulan komunitas bisa dimasukkan secara utuh, setiap unsur lokal tetap mendapat porsi seimbang.
“Misalnya komunitas mangrove ingin porsi besar, tapi kami atur agar semuanya bisa tampil proporsional,” ujarnya.
Melalui buku muatan lokal ini, Disdikbud Kaltim berharap pelajar dapat mengenal lebih dekat budaya, alam, dan bahasa daerah mereka sendiri.
“Kami ingin buku ini tidak hanya jadi bahan ajar, tapi juga menjadi jembatan untuk membangun rasa bangga terhadap Kaltim,” pungkas Yuni. (Han911/adv/Diskominfokaltim)













