
Persepsinews.com, Samarinda – Rencana penerapan muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah Kota Samarinda masih terbentur persoalan ketersediaan tenaga pengajar. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai hal ini sebagai hambatan yang harus segera dicari solusinya.
Ia menyebut sejumlah bidang mulok sulit diterapkan karena minimnya guru yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.
Dari hampir 800 satuan pendidikan di Samarinda, hanya segelintir yang sudah mampu menjalankan mulok secara penuh. Salah satunya SMP Negeri 2 yang telah memiliki tenaga pengajar seni tari.
Namun, lanjut Puji, kondisi ini belum menyebar merata, bahkan pengajaran bahasa Kutai pun sudah tidak lagi tersedia.
“Dulu punya, waktu jaman saya diajarin bahasa Kutai dan ada bukunya, sekarang sudah tidak ada,” ucapnya.
Ke depan, ia mendorong pemerintah untuk menyiapkan strategi jangka panjang, termasuk menyekolahkan guru agar memiliki sertifikasi.
“Kita membuat mulok sebagai kearifan lokal di Kota Samarinda tetapi ketersediaan SDMnya itu yang nanti kaitannya dengan anggaran lagi karena kita mungkin harus menyekolahkan guru,” jelasnya.
Selain itu, menurutnya kebutuhan tenaga pengajar musik tradisional juga harus diperhatikan. “Seperti musik sape itu harus ada ahlinya, bukan hanya orang-orang yang ahli memainkan, tetapi harus ada literasinya,” tandasnya. (Sn/Adv DPRD Samarinda)













