
Persepsinews.com, Samarinda – Penyerapan tenaga kerja lulusan SMA/SMK mendominasi tingginya angka pengangguran di Kalimantan Timur. Walaupun per 2023 tren nya semakin meningkat. Hal ini juga dikarenakan pada kebutuhan persyaratan jabatan-jabatan tertentu dibutuhkan lulusan di atasnya.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Rozani Erawardi menyebutkan berdasarkan angka Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Penganguran Terbuka (TPT) paling tinggi merupakan tingkatan SMA/K. Namun per Agustus 2022 hingga Agustus 2023 angka pengangguran yang turun dari tingkatan SMK angkanya mencapai 6,34 persen sedangkan pada tahun 2022 mencapai 7,14 persen.
Berbanding terbalik dengan lulusan SMA yang trennya semakin naik angka TPT year on yearnya per Agustus 2022 mencapai angka 6,61 persen dan pada Agustus 2023 mencapai persentase 7,19 persen. Salah satu faktornya berkaitan dengan keputusan lulusan SMA untuk melanjutkan pendidikan atau memilih bekerja.
“Trennya yang meningkat di lulusan SMA, kalau SMK kan dia bisa langsung bekerja atau wirausaha,”jelasnya.
Rozani jelaskan kenaikannya cukup signifikan, terdapat perbedaan dari kedua lulusan ini. Dalam tiga tahun berturut-turut angka TPT di SMK terus menurun, dari tahun 2021 yang mencapai angka 12,61 persen.
Hal ini menurutnya juga didukung dengan Bursa Kerja Khusus (BKK) yang mendukung penjaringan kerja di sekolah-sekolah kejuruan. Terlebih SMK yang menjual jasa, karena banyak sekali lowongan pekerjaan jasa khususnya di Kota Samarinda.
“Jadi turun memang trennya, karena jika tidak bekerja mereka bisa membangun usaha yang mudah dan murah dari rumah, misal sebagai anak IT (Ilmu Teknologi) bisa membangun usaha kecil-kecilan,”jelasnya.
Ia jelaskan salah satu faktor yang mempengaruhi lulusan SMA tidak melanjutkan sekolahnya salah satunya mungkin berkaitan dengan biaya, jurusan yang tidak diinginkan ataupun jarak, bahkan ada fenomena gap year dimana lulusan SMA akan menunggu dahulu sampai penerimaan universitas kembali, jika tidak bekerja maka akan dianggap menganggur.
“Banyak ya faktornya yang mempengaruhi, ini juga bicara akses dari lulusan SMA,”pungkasnya. (Nel/Adv/Disnakerkaltim)