Persepsinews, Samarinda – Volume sampah di Kota Balikpapan sempat melonjak drastis selama periode Ramadan dan Lebaran 2024 lalu. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat lonjakan bahkan terjadi hingga 804 ton per hari, dua kali lipat dari volume normal 380-450 ton per hari.
Lonjakan tersebut didominasi oleh sampah rumah tangga (85%) dan sisanya dari rumah makan (15%).
Namun kondisi ini tidak menyebabkan TPA di Balikpapan mengalami over kapasitas.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim Noor Utami mengungkapkan, hal itu disebabkan pengelolaan sampah yang baik dari DLH Balikpapan.
Banyak inovasi yang telah dilakukan di Kota Balikpapan dalam hal pengelolaan sampah.
Beberapa program tersebut diantaranya seperti membangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Refused Derived Fuel (RDF) yang merupakan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu menjadi bahan bakar setelah dilakukan pencacahan dan pengeringan.
“Ya kita juga tahu bahwa Kota Balikpapan ini memang terjaga kebersihannya, apalagi dengan teknologi yang ada RDF saat ini, ada juga pemanfaatan gas ethanol sudah bagus, kita hanya perlu memperluas sarana dan prasarananya,” tutur Noor di kantornya (23/4/2024).
Noor Utami juga mengungkapkan rencana DLH untuk mengurangi jumlah Tempat Pembuangan Akhir hingga 60 persen di tahun 2030. Hal inilah sejumlah program pengelolaan sampah tersebut terus dilakukan.
Hal ini untuk menindak lanjuti arahan Kementerian Lingkungan Hidup sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik dalam mendukung terlaksananya Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
“Peningkatan pembangunan industri pengolahan sambah menjadi upaya pemerintah untuk mewujudkan Indonesia bebas TPA di tahun 2040,” pungkasnya. (Ozn)













