Persepsinews.com – Dalam setiap rapat koordinasi di kantor pemerintahan maupun korporasi, hampir dipastikan ada saja peserta yang matanya lebih setia pada layar ponsel daripada pada presentasi. Di ruang keluarga, seorang manajer yang sehari-hari mengatur puluhan bawahan justru gagal mengatur prioritasnya sendiri: lebih asyik membalas email daripada mendengar cerita anak.
Di ruang publik, pejabat yang sedang berdialog dengan konstituen malah sibuk mengecek notifikasi. Fenomena ini bernama phubbing mengabaikan orang di hadapan karena sibuk dengan gawai.
Dunia bahkan telah menciptakan istilah khusus sejak 2012. Tapi dari sudut pandang manajemen, phubbing bukan sekadar masalah sopan santun. Ini adalah kegagalan manajemen diri yang sistemik, dan ironisnya sering dibiarkan tanpa intervensi serius.
Phubbing sebagai Bentuk Mismanagement Sumber Daya
Dalam teori manajemen, salah satu fungsi utama seorang pemimpin adalah mengalokasikan sumber daya secara efisien termasuk waktu, perhatian, dan energi.
Ketika seseorang memilih untuk membalas notifikasi yang tidak genting di tengah interaksi langsung, ia sebenarnya sedang melakukan misalokasi perhatian yang kronis.
Hasilnya? Kualitas hubungan kerja merosot, kolaborasi tim terganggu, dan pengambilan keputusan menjadi dangkal karena informasi tidak diserap secara utuh. Seorang manajer yang terus-menerus memeriksa HP saat bawahan melaporkan masalah akan kehilangan nuansa penting dari laporan tersebut. Ini bukan hanya kerugian interpersonal, tetapi juga kerugian strategis.
Di dunia korporat, phubbing juga merusak psychological safety – perasaan aman untuk berbicara tanpa takut diabaikan. Seorang bawahan yang terus menerus di-phubbing oleh atasannya akan kehilangan inisiatif. Produktivitas tim pun turun. Ini bukan tafsiran, tapi temuan riset: studi dari University of Michigan menunjukkan bahwa phubbing di tempat kerja menurunkan kepuasan kerja hingga 35 persen.
Penelitian lain dari McMaster University menemukan bahwa interaksi yang terputus oleh ponsel mengurangi efektivitas komunikasi hingga setengahnya. Dalam skala nasional, jika setiap kantor pemerintahan dan swasta mengalami hal ini, berapa besar kerugian produktivitas yang kita tanggung? Belum lagi dampak pada retensi talenta dan biaya rekrutmen akibat tingginya turnover.

Kurangnya Self-Regulation dan Disiplin Informasi
Dari lensa perilaku organisasi, phubbing mencerminkan lemahnya self-regulation. Kita hidup di era banjir informasi, namun jarang yang terlatih menyaring mana yang penting dan mendesak (urgent-important matrix ala Stephen Covey). Sebagian besar notifikasi sebenarnya tidak penting dan tidak mendesak.
Tapi karena HP dirancang untuk membuat ketagihan (dopamine loop), kita kehilangan kendali. Ironisnya, para pemimpin yang seharusnya menjadi teladan dalam manajemen diri justru sering menjadi phubber paling parah. Mereka terjebak dalam ilusi produktivitas: merasa sibuk dan penting karena selalu responsif terhadap pesan, padahal sebenarnya sedang mengabaikan prioritas yang lebih strategis.
Di sinilah nilai Islam masuk dengan sederhana namun tajam. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
Kuat di sini tidak hanya fisik, tapi juga kuat mengendalikan hawa nafsu termasuk nafsu untuk terus mengecek HP. Phubbing adalah wujud kelemahan pengendalian diri. Allah juga mengingatkan dalam QS. Luqman ayat 18: “Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong.” Memalingkan wajah secara fisik karena HP, apalagi di tengah pembicaraan, adalah bentuk kesombongan kecil yang dilupakan.
Padahal, dalam Islam, menghormati lawan bicara dengan mendengarkan sepenuh hati adalah bagian dari akhlak mulia.
Audit Perhatian dan Komitmen Kolektif
Jika ini masalah manajemen, solusinya juga harus sistemik. Pertama, setiap institusi mulai dari DPR, kementerian, BUMN, hingga kantor desa – perlu membuat kebijakan bebas phubbing dalam rapat.
Bukan sekadar imbauan, tapi aturan dengan konsekuensi. Misalnya, ponsel dikumpulkan di pintu masuk ruang rapat, atau dikenakan sanksi administratif bagi pelanggar berulang.
Kedua, setiap individu perlu melakukan audit perhatian mingguan: seberapa sering saya mengabaikan orang terdekat demi layar? Catat, evaluasi, perbaiki. Ini seperti performance review untuk diri sendiri.
Ketiga, keluarga sebagai unit terkecil masyarakat harus membuat komitmen bersama, misalnya no phone at dinner table atau zona bebas HP di ruang keluarga. Ini bukan kuno, ini strategi manajemen relasional berbasis kesadaran.
Yang terpenting, kita harus berani menyebut phubbing sebagai bentuk pemborosan sumber daya manusia.
Seorang manajer yang gagal memberi perhatian penuh pada timnya, seorang pejabat yang lebih sibuk selfie daripada mendengar aspirasi, seorang ayah yang matanya pada ponsel saat anaknya berbicara mereka semua sedang mencuri dari masa depan. Perhatian adalah aset paling langka di abad ini. Jangan sia-siakan.
Mari berhenti jadi phubber. Bukan karena tren, tapi karena kita ingin menjadi pribadi yang kuat, beradab, dan mampu mengelola diri.
Karena di hadapan Allah, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap detik dan setiap orang yang kita abaikan. Wallahu a’lam.
Penulis : Lukman Priyandono mahasiswa Program Studi Doktor Manajemen Universitas Islam Bandung dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda













